Rabu, 20 Mei 2009

Pesawat Jatuh di Madiun Angkut 96 Prajurit TNI


JAKARTA - Pesawat Hercules milik TNI AU jatuh di Magetan Jawa Timur, Rabu (20/5/2009) pagi. Pesawat nahas ini mengangkut 96 prajurit yang hendak pulang setelah bertugas mengantar logistik personel."Jumlah penumpangnya perkiraan 96 prajurit," ujar Kadipen TNI AU Bambang Sulistyo kepada okezone melalui telepon, Rabu (20/5/2009).

Bambang mengaku belum mengetahui secara pasti berapa jumlah korban jiwa dalam kecelakaan pesawat yang sempat menabrak tiga rumah itu. "Yang tewas masih belum tahu," pungkasnya.

Seperti diberitakan, sebuah pesawat Hecules milik TNI AU jatuh di permukiman penduduk di Desa Geplak, Kecamatan Keras, Magetan, Jawa Timur sekira pukul 06.30 WIB.Sebelumnya pesawat yang mengangkut para prajurit itu terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta menuju Bandara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur tadi malam.

Kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Magetan, Jawa Timur, harus menjadi pelajaran dalam peningkatan proyeksi anggaran bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI)."Pemerintah ke depan harus memproyeksikan anggaran pertahan sekurang-kurangnya 75 persen dari kebutuhan minimalnya," ujar anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar, Yuddy Chrisnandi, melalui pesan singkatnya kepada okezone, Rabu (20/5/2009).Dia mengatakan, sampai saat ini anggaran TNI yang baru dapat dipenuhi negara sekira 45 persen dari kebutuhan minimalnya. "Ini adalah cermin ketidakberpihakan politik anggaran pemerintah kepada TNI," tandas politisi muda Golkar ini.

Lebih lanjut dia menambahkan, peningkatan proyeksi anggaran adalah guna mengurangi risiko penggunaan alat utama sistem senjata (alutsista) dan juga meningkatkan kesejahteraan prajurit.Dikatakan, minimnya anggaran pertahanan menyebabkan TNI tidak bisa memiliki peralatan perang, termasuk pesawat angkut yang baru apalagi modern.

Pesawat angkut baru dan modern dibutuhkan TNI supaya dapat meminimalisir terjadinya risiko kecelakaan.Bahkan, tambah Yuddy, TNI juga tidak memiliki anggaran perawatan alutsista yang memadai untuk menjaga kesinambungan keamanan pengoperasian alat-alat pertahanannya."Kita prihatin, jatuhnya Hercules adalah musibah yang bila dirunut sebagai konsekuensi penggunaan alutsista udara yang sudah berumur tua serta ketidakcukupan biaya perawatan," terangnya

Okezone.com

Selasa, 19 Mei 2009

Bea Cukai Usut Jaringan Pemasaran Pita Cukai Palsu

SURABAYA - Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea Cukai (DJBC) Jatim I bergerak cepat dengan mengembangkan penyidikan kasus cukai palsu ke jaringan pemasaran yang diduga telah tersebar di Jawa Timur.

Pemeriksaan tampaknya tidak hanya berhenti pada orang-orang terdekat tersangka Bambang Sugiarto, tapi mulai diarahkan pada komplotan Bambang di Jatim. Pihak bea cukai menengarai peredaran cukai palsu itu telah menyebar ke sejumlah daerah.

Tidak hanya dikalangan produsen rokok lokalan, tapi juga ?menyusup' ke produsen rokok besar atau telah memiliki pasaran luas. Hal ini diindikasikan dengan lamanya masa operasional atau peredaran cukai palsu milik Bambang di Jawa Timur.

Kepala seksi Penyidikan dan Penindakan (P2) Kanwil DJ Bea Cukai Jatim I Tjerja Karya Adil mengatakan, Jawa Timur hanyalah salah satu sasaran pemasaran cukai palsu produksi Bambang. Lainnya diidentifikasi sudah beberapa tahun dipasarkan di daerah Jawa Tengah. Terutama Jepara, Semarang, dan Solo.

"Distribusi cukai palsu ini sudah ke mana-mana, bahkan hingga keluar pulau Jawa," ungkap Tjerja, Senin (18/5/2009).

Di Jawa Timur sendiri, dugaan pemasaran cukai palsu yang diproduksi Bambang Cs sudah merambah ke hampir semua kota dan kabupaten. Hal itu disampaikan Tjerja dengan menyatakan bahwa sebenarnya peredaran cukai illegal tersebut telah diintai bea cukai sejak tiga bulan sebelum pabrik utamanya di Slipi, Jakarta dan Tangerang digerebek.

"Pergerakan mereka sudah kita pantau sejak tiga bulan lalu. Tapi bea cukai tidak langsung melakukan penangkapan," tuturnya.

Lamanya proses pemantauan intelijen oleh pihak bea cukai, kata Tjerja, disebabkan pihaknya tidak ingin hanya menangkap pelaku lapangan yang hanya berperan pengedar cukai palsu. "Temuan intelijen itu terus ditelusuri sampai ke tingkat produsen agar bisa menangkap kakapnya sekaligus," papar Tjerja.

Pihak Kanwil DJBC Jatim I belum bersedia membeber hasil ungkap pengembangan kasus cukai palsu terbesar yang digerebek Direktorat Jendral Bea Cukai Jakarta, tiga hari lalu di kawasan Slipi dan Tengerang.

Seperti diberitakan, Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea Cukai (DJBC) Jatim I bekerja sama dengan Polwiltabes Surabaya menggerebek tiga unit rumah mewah yang diidentifikasi sebagai milik tersangka Bambang Sugiarto. Operasi penggeledahan ini menyusul terbongkarnya pabrik cukai palsu di Tangerang, dua hari lalu atau tepatnya Sabtu 16 Mei lalu. (Destyan Soejarwoko/Koran SI/kem)

free counters